Musuh Dalam Selimut
Mamad diundang makan malam oleh Citra, teman sejak kecil. Citra bertubuh mungil sekitar 158 cm dan gemar membaca buku. Selain Mamad, ia juga mengundang beberapa teman lainnya. Jam 19:00 semuanya telah hadir di rumah Citra dimana ia memperkenalkan teman2nya kepada Mamad. Ada beberapa yang sudah dikenal Mamad dengan baik.
Makan malam itu lumayan sukses. Citra ternyata pintar memasak. Yang beruntung tentu saja Ata', suaminya. Ata' berperawakan agak kurus dan berkacamata. Mereka baru saja jadian sebulan yang lalu. Pasangan yang sedang mesra-mesranya.
Setelah itu mereka minum anggur yang sudah lama disimpan Ata'. Teman mereka menawarkan untuk mengambil anggur yang disimpan di lemari gudang. Benar-benar malam yang bahagia. Tetapi tidak sebahagia yang mereka duga.
Mamad yang pertama sekali merasakan kelainan. Kepalanya terasa berat . Matanya seakan ingin tetutup karena mengantuk. Perlahan ia jatuh tertidur. Lalu disusul Citra dan Ata'. Begitu pula dengan tamu-tamu yang lain.
10 menit kemudian sesosok bayangan bangkit di antara orang2 yang pingsan. Dialah yang menaruh obat tidur di botol anggur sewaktu tak ada yang memperhatikan. Dengan cekatan ia mulai beraksi. Disikatnya semua benda2 berharga yang dipakai temannya. Kalung, cincin, anting2, ponsel, uang di dompet dll. Lalu ia mengambil benda2 berharga milik tuan rumah juga. Benda curiannya diberikan kepada teman sekomplotan yang dari tadi menunggu di seberang rumah Citra. Ia membuang anggur miliknya yang tadi tak diminumnya. Lalu ia berbaring di samping temannya dan memejamkan mata. Sebentar kemudian ia terlelap seperti yang lain.
Keesokan harinya.
Citra mengucek2 matanya. Kepalanya masih terasa berat. Ia melihat suami dan teman-temannya terbaring di sofa. Lalu Mamad terbangun.
“Dimana aku?” tanya Mamad bingung. Kok masih ada di rumah Citra? Apa gerangan yang terjadi? Yang diingatnya terakhir adalah bersenda gurau sambil minum anggur.
Kemudian Lia, teman Citra bangun. Dipegangnya kepalanya yang masih pusing. Ia meraba pegelangan tangannya.
“Jamku…jam tanganku hilang,” ucapnya terbata-bata. Lalu dipandang jari-jarinya. “Cincin…cincin berlianku …. tak ada.”
Mamad yang pikirannya telah jernih ikut memeriksa . Jam tangan, ponsel serta uang di dompetnya ikut hilang.
Begitu pula dengan Citra dan Ata'. Bahkan mereka yang paling kasihan. Perhiasan2 mahal yang disimpan Citra pada kotak perhiasan di kamarnya lenyap. Uang kontan sebesar jutaan rupiah di lemari juga amblas dan masih banyak lagi yang ikut hilang. Teman2 yang lain yang telah sadar, semua ikut juga memeriksa barang berharga mereka. Ternyata barang mereka juga hilang. Semua berkeluh kesah.
Ata' menarik Mamad ke ruang tengah.
“Mad, pasti pencurinya ada diantara mereka. Saya telah memeriksa pintu depan dan belakang. Tidak ada tanda-tanda masuk dengan cara paksa.”
“ Benar.” Mamad mengiyakan. “Mungkin salah seorang di antara mereka memasukkan obat tidur di anggur yang kita minum semalam. Setelah menunggu kita tertidur dia menjalankan aksinya.”
Ata' manggut-manggut. Ia meminta Mamad untuk menyelidiki keenam tamu-tamu yang lain. Dia sendiri pergi menenangkan Citra yang stress memikirkan benda2 yang kecurian.
Hasil wawancara:
Risna P : Untuk apa aku mencuri benda2 temanku, Mad? Lagipula milikku juga ikut hilang. Aku belum semiskin itu untuk mencuri.
Yunda A : Aku bukan seorang pencuri. Lagipula aku kaya. Mestinya kamu tahu itu, Mad.
Edo Z : Aku tak akan mengambil barang milik orang lain. Masa sih aku dicurigai Ata'? Kami kan sudah seperti saudara. Aku akan protes ke dia!
Lia N: Bukan aku pelakunya Mad. Mencuri itu dilarang oleh ajaran agama. Lagipula milikku ikut amblas juga.
Kimble C: Sekejam itu kamu menuduhku. Semua perhiasanku lenyap bahkan cincin pertunanganku pun disikat. Bagaimana aku menjelaskannya kepada tunanganku nanti?
Lily G : Aku bukan seorang pencuri, Mad. Kita bertiga, kamu, aku dan Citra sudah bersahabat sejak kecil, mestinya kamu tahu sifatku.
Setelah berpikir beberapa saat, Mad akhirnya mengetahui siapa si pencuri itu. Ia memberitahukan hasil penemuan berikut bukti kepada Citra dan Ata'. Susah bagi mereka untuk menerima kalau ternyata salah satu teman mereka adalah pencuri. Musuh dalam selimut!
Mereka menemui si pencuri dan memintanya untuk mengembalikan benda-benda yang dicuri. Mereka berjanji tidak akan melibatkan polisi. Mulanya si pencuri berlagak tak tahu apa-apa.. Namun setelah disodorkan satu bukti kuat, si pencuri tak mampu untuk
mengelak. Ia menghubungi teman komplotannya dan memintanya untuk mengantarkan barang2 hasil curiannya kembali. Tentu saja si pencuri itu selamanya tak akan diijinkan lagi untuk bertamu di rumah Citra dan Ata'.
*Siapa Si Pencuri? Bukti?* Kirim jawaban ke bLog gua secepatnya. Selamat mencoba!
Mamad diundang makan malam oleh Citra, teman sejak kecil. Citra bertubuh mungil sekitar 158 cm dan gemar membaca buku. Selain Mamad, ia juga mengundang beberapa teman lainnya. Jam 19:00 semuanya telah hadir di rumah Citra dimana ia memperkenalkan teman2nya kepada Mamad. Ada beberapa yang sudah dikenal Mamad dengan baik.
Makan malam itu lumayan sukses. Citra ternyata pintar memasak. Yang beruntung tentu saja Ata', suaminya. Ata' berperawakan agak kurus dan berkacamata. Mereka baru saja jadian sebulan yang lalu. Pasangan yang sedang mesra-mesranya.

Setelah itu mereka minum anggur yang sudah lama disimpan Ata'. Teman mereka menawarkan untuk mengambil anggur yang disimpan di lemari gudang. Benar-benar malam yang bahagia. Tetapi tidak sebahagia yang mereka duga.
Mamad yang pertama sekali merasakan kelainan. Kepalanya terasa berat . Matanya seakan ingin tetutup karena mengantuk. Perlahan ia jatuh tertidur. Lalu disusul Citra dan Ata'. Begitu pula dengan tamu-tamu yang lain.
10 menit kemudian sesosok bayangan bangkit di antara orang2 yang pingsan. Dialah yang menaruh obat tidur di botol anggur sewaktu tak ada yang memperhatikan. Dengan cekatan ia mulai beraksi. Disikatnya semua benda2 berharga yang dipakai temannya. Kalung, cincin, anting2, ponsel, uang di dompet dll. Lalu ia mengambil benda2 berharga milik tuan rumah juga. Benda curiannya diberikan kepada teman sekomplotan yang dari tadi menunggu di seberang rumah Citra. Ia membuang anggur miliknya yang tadi tak diminumnya. Lalu ia berbaring di samping temannya dan memejamkan mata. Sebentar kemudian ia terlelap seperti yang lain.
Keesokan harinya.
Citra mengucek2 matanya. Kepalanya masih terasa berat. Ia melihat suami dan teman-temannya terbaring di sofa. Lalu Mamad terbangun.
“Dimana aku?” tanya Mamad bingung. Kok masih ada di rumah Citra? Apa gerangan yang terjadi? Yang diingatnya terakhir adalah bersenda gurau sambil minum anggur.
Kemudian Lia, teman Citra bangun. Dipegangnya kepalanya yang masih pusing. Ia meraba pegelangan tangannya.
“Jamku…jam tanganku hilang,” ucapnya terbata-bata. Lalu dipandang jari-jarinya. “Cincin…cincin berlianku …. tak ada.”
Mamad yang pikirannya telah jernih ikut memeriksa . Jam tangan, ponsel serta uang di dompetnya ikut hilang.
Begitu pula dengan Citra dan Ata'. Bahkan mereka yang paling kasihan. Perhiasan2 mahal yang disimpan Citra pada kotak perhiasan di kamarnya lenyap. Uang kontan sebesar jutaan rupiah di lemari juga amblas dan masih banyak lagi yang ikut hilang. Teman2 yang lain yang telah sadar, semua ikut juga memeriksa barang berharga mereka. Ternyata barang mereka juga hilang. Semua berkeluh kesah.
Ata' menarik Mamad ke ruang tengah.
“Mad, pasti pencurinya ada diantara mereka. Saya telah memeriksa pintu depan dan belakang. Tidak ada tanda-tanda masuk dengan cara paksa.”
“ Benar.” Mamad mengiyakan. “Mungkin salah seorang di antara mereka memasukkan obat tidur di anggur yang kita minum semalam. Setelah menunggu kita tertidur dia menjalankan aksinya.”
Ata' manggut-manggut. Ia meminta Mamad untuk menyelidiki keenam tamu-tamu yang lain. Dia sendiri pergi menenangkan Citra yang stress memikirkan benda2 yang kecurian.
Hasil wawancara:
Risna P : Untuk apa aku mencuri benda2 temanku, Mad? Lagipula milikku juga ikut hilang. Aku belum semiskin itu untuk mencuri.
Yunda A : Aku bukan seorang pencuri. Lagipula aku kaya. Mestinya kamu tahu itu, Mad.
Edo Z : Aku tak akan mengambil barang milik orang lain. Masa sih aku dicurigai Ata'? Kami kan sudah seperti saudara. Aku akan protes ke dia!
Lia N: Bukan aku pelakunya Mad. Mencuri itu dilarang oleh ajaran agama. Lagipula milikku ikut amblas juga.
Kimble C: Sekejam itu kamu menuduhku. Semua perhiasanku lenyap bahkan cincin pertunanganku pun disikat. Bagaimana aku menjelaskannya kepada tunanganku nanti?
Lily G : Aku bukan seorang pencuri, Mad. Kita bertiga, kamu, aku dan Citra sudah bersahabat sejak kecil, mestinya kamu tahu sifatku.
Setelah berpikir beberapa saat, Mad akhirnya mengetahui siapa si pencuri itu. Ia memberitahukan hasil penemuan berikut bukti kepada Citra dan Ata'. Susah bagi mereka untuk menerima kalau ternyata salah satu teman mereka adalah pencuri. Musuh dalam selimut!
Mereka menemui si pencuri dan memintanya untuk mengembalikan benda-benda yang dicuri. Mereka berjanji tidak akan melibatkan polisi. Mulanya si pencuri berlagak tak tahu apa-apa.. Namun setelah disodorkan satu bukti kuat, si pencuri tak mampu untuk
mengelak. Ia menghubungi teman komplotannya dan memintanya untuk mengantarkan barang2 hasil curiannya kembali. Tentu saja si pencuri itu selamanya tak akan diijinkan lagi untuk bertamu di rumah Citra dan Ata'.
*Siapa Si Pencuri? Bukti?* Kirim jawaban ke bLog gua secepatnya. Selamat mencoba!
1 komentar:
Q tau pazti mad yg nyuri
Posting Komentar